our earth

our earth
save it

Monday, May 12, 2014

Pernahkah kamu bayangkan …?

Pernahkah kamu bayangkan, saat dulu kamu mulai mendekatiku ??
Saat saat kamu mulai memperlakukanku seakan seutuhnya aku milikmu ..
Saat saat kamu mulai meyakinkanku indahnya setiap waktu bersamamu ..
Saat saat kamu mulai menunjukkan bahwa kamu pun menyayangiku ..
Pernahkah kamu berfikir, setiap hal yang kamu lakukan padaku dulu ??
Setiap hal yang mampu membuatku jatuh cinta padamu ..
Setiap hal yang mampu membuatku semakin menyayangimu ..
Setiap hal yang mampu membuatku takut kehilangan dirimu ..
Pernahkah kamu menyadari dalamnya sayangku untukmu saat dia hadir ??
Kusadari memang dia yang pertama mengenalmu, bahkan kau sayangi ..
Kusadari memang  akulah disini yang menjadi orang ketiga diantara kalian ..
Kusadari memang akulah yang harus menjauh darimu, melupakan semuanya ..
Tapi apakah pernah terlintas dibenakmu, apabila kamu menjadi aku ??
Berusaha melupakan kamu disaat ku mulai menyayangimu ..
Berusaha menjauh saat hati ini tak mampu untuk kehilangan dirimu ..
Berusaha melepaskanmu saat aku menginginkan menjadi milikmu seutuhnya ..
Berusaha menjadi seorang yang seakan tak pernah menyayangimu, walau hati ini menangis ..

Hey kamu …….

Hey kamu ..
Tidakkah kamu melihat aku yang ada disini ..
Selalu disini menunggumu disetiap dentingan waktu ..
Iya disini, disini tanpa pernah kau hiraukan ..
Tanpa pernah kau sadari aku yang selalu ada ..
Hey kamu ..
Bisakah kamu menoleh sejenak ??
Melihat – memperhatikan aku sesaat saja ..
Hanya sesaat saja yang ku inginkan ..
Agar kamu pun tahu bahwa aku yang ada disini selalu menunggumu .

Mati di Tanganmu

Dingin…
Hujan menemani sedari senja
Asap rokok terbatuk dari nafas
Mencoba percuma mencari hangat
Demi dirinya dia
Dia bersandar lemas
Dinding-dinding kayu kasar
Puing merah-merah kelam
Terkait daging-daging busuk
Dari koyak luka-luka
Sejak kapan tak sadar
Buram menggema dalam ingatan
Mereka berlari tanpa dirinya
Asap rokok terbatuk dari nafas
Dingin merajalela….
Hujan tak juga reda
Tiada kata kutuk untuk mereka
Mereka siapa?
Buram menggema dalam ingatan
Sakit tiap detik melihatnya
Ketika hangat hanya mimpi
Bahagia dengan senyum mereka
Kini pun sama
Hanya kini luka untuk mereka
Mereka siapa?
Dingin tiada terasa….
Bukan…bukan untuk mereka
Demi dirinya…
Tenggelam dalam buram
Tercabik-cabik luka
Tersenyum dia
Terakhir untuk dirinya
Dirinya yang mulai menangis
Di hadapannya dirinya menangis
Meski dia berharap senyum
Di saat akhir dirinya menangis
Entah tersadarkah dirinya
Atau hanya bersalah dari hatinya
Hujan tak berhenti
Meski hingga akhir
Hingga sadar dirinya
Dia mati untuknya
Seraya berbisik dia berkata
“Aku mati di tanganmu….”

Agu Kebangsaan Nina – Bobo ( Tahun Masa Kritis )

Di bawah pimpinan para koruptor
Di tanah negeri berlambang burung perkutut
Rakyat minta kesejahteraan merata
Menunggu sepajang sejarah
Sepanjang tahun penuh janji
Meletus bom waktu, Boom !
Lagu kebangsaan nina-bobo,paling tepat !

Mari kita nyanyikan :
Nina – bobo ,  o, nina – bo – bo
“ fantastis, sungguh menghanyutkan “
Ada kesaksian di tembak mati di tengah – tengah demonstran di anggap pahlawan kesiangan
Dan  anak – anak berdiri  disetiap perempatan sambil bertepuk tangan lalu  mengetuk kaca jendela mobil
Para pelacur kehilangan penghasilan
Ekonomi anjlok, manipulasi dollar naik tinggi
ibu – ibu antri sembako
Para tengkulak sibuk menyimpan harta karun dan petani termangu menatap asing jaman
O, nani
Aku disini tak mampu lagi membaca
Lantaran tv selalu pertontonkan perdebatan basi
Malam  membawa kabar mencekam
Dari  berbagai penjuru
Peluru meletus seperti  siluman, tar tar tar !
Dalam gedung ambruk tubuh – tubuh telanjang
Tanpa kepala hangus terbakar
Tanpa identitas, tanpa pertanggungjawaban
Tubuh – tubuh masuk ruang otopsi
Jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran
Kaki – kaki berlari saling berkejaran menembus gang – gang  sempit
Bersembunyi di balik sudut – sudut kota
Asap hitam menutupi langit
Air mata memuka agama kering membeku
Bendera setengah tiang berkibar – kibar siang bolong
Berita koran pagi sudah bercak darah
Jika aparat dan politikus berpuisi
Tentu tidak jatuh korban
Sejenak cooling down
Rakyat mengheningkan cipta
Ketika bentrokan jadi rawan
Puisi di tengah – tengah masa
Menjelma saksi
Menjadi kesadaran
1998/2012

iseng

basuhi bibir dengan ucapan manis
hilangkan dahaga romansa kata
dengarkan irama tarian lidah
melantunkan nada suka cita
berkeringat dahi ini
mengalir deras serasa waswas
tak padan ku untuk mengatakan
ingin sekali engkau aku bahagiakan
tak patut aku berjanji
karena aku takut tak mentepati
tapi aku bisa memberi
sedikit kepercayaan diri untuk berlari
ku tahu kau akan selalu ragu
tak sebutirpun kau percaya padaku
tapi aku mampu
menghapus ragumu dengan usahaku

Melawan Cahaya

Aku tidur di antara tawa dan doa
Terlelap dalam selimut cahaya
Aku tertidur setelah sekian lama
Tiada peduli lagi sibuk dan kerja
Beban itu kuletakkan semua

Ketika gelap begitu menggoda
Meski terang sinar cahaya
Kelopak mataku menutupi mata
Biarkan gelap memberi tanda
Bukan lagi waktuku untuk cinta dan bahaya

Segala ilmu berteori
Tubuh ini masih mampu memberi
Apa daya sang mimpi
Beri ruang untuk pergi
Jauh-jauh dari jangkau sakit hati
Dari kasih yang kau terima dengan pergi

Maka aku tidur di antara nyata dan mimpi
Memilih untuk terdiam sendiri
Meski ku tahu pasti
Ku ingin bermimpi hingga datang sang pagi

Lagu Kebangsaan Nina – Bobo ( Tahun Masa Kritis ) Oleh : Achmad Obe Marzuki

Di bawah pimpinan para koruptor
Di tanah negeri berlambang burung perkutut
Rakyat minta kesejahteraan merata
Menunggu sepanjang sejarah
Sepanjang tahun penuh janji
Meletus bom bom waktu, boom !
Lagu kebangsaan nina – bobo, paling tepat !
Mari kita nyanyikan
: Nina – bobo, o nina – bo – bo
“ fantastis, sungguh menghanyutkan “
Ada kesaksian di tembak mati di tengah masa di anggap pahlawan kesiangan
Dan anak – anak berdiri disetiap perempatan sambil bertepuk tangan lalu mengetuk
Kaca jendela mobil tuan
Para pelacur kehilangan penghasilan
Ekonomi anjlok, manipulasi dollar lebih naik
Ibu – ibu antri sembako
Para tengkulak sibuk menyimpan harta karun
Dan petani termangu menatap asing jaman
O, nani
Aku disini tak mampu lagi membaca
Lantaran tv selalu pertontonkan perdebatan basi
Malam hanya membawa kabar mencekam
Dari berbagai penjuru
Peluru meletus seperti siluman, tar tar tar !
Dalam gedung ambruk tubuh – tubuh telanjang
Tanpa kepala hangus terbakar
Tanpa identitas, tanpa pertanggung jawaban
Tubuh – tubuh masuk ruang otopsi
Jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran
Kaki – kaki berlari saling berkejaran menembus gang – gang sempit
Bersembunyi di balik sudut – sudut kota
Saat bendera setengah tiang berkibar – kibar siang bolong
Berita Koran pagi sudah bercak darah
Jika aparat dan politikus berpuisi
Tentu tidak jatuh korban
Sejenak berani cooling down
Ketika bentrokan jadi rawan
Rakyat turun mengheningkan cipta
Berduka di tengah masa
Puisilah menjelma saksi
Menjadi kesadaran dirinya
Di hadapan undang – undang putri adil
1998/2012